Selasa, 01 September 2020

SEBUTIR URUN DI RELUNG PENGABDIAN (TAMU DARI ISTANA)

TAMU DARI ISTANA

 Oleh: Siti Arina Budiastuti, M.Pd.B.I

 (Kepala SMP Negeri 15 Yogyakarta)


Pagi itu, di pertengahan September 2017, ada satu hari yang tak pernah kami lupakan. Mengapa? Dari ruang Tata Usaha terdengar bunyi telepon. Ternyata berasal dari DPMPPA (Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak ) Yogyakarta, sebenarnya bunyi telepon tak membuat kami terheran, tetapi bunyi telpon kali ini berbeda dengan telepon-telepon sebelumnya. Karena seorang pejabat dari dinas tersebut mengabarkan bahwa kami keluarga besar SMP Negeri 15 Yogyakarta akan menerima tamu, dan tamu yang dimaksud sebenarnya juga sudah biasa karena kami sering menerima tamu, tetapi tamu kami kali ini sangat luar biasa, karena tamu kami dari istana.

Seperti biasa kami, guru karyawan,dan peserta didik sudah terbiasa melaksanakan kegiatan ataupun pembiasaan, tentu juga menjaga kebersi-han dan kenyamanan sekolahan. Tak ada yang istimewa bagi kami, begitu pula dalam kami mengerjakan tugas-tugas rutin kami, namun ada yang istimewa karena kami mengabarkan kepada seluruh warga sekolah dalam pembiasaan pagi itu, bahwa sekolah akan menerima tamu dari istana.

Anak-anak riang gembira, “siapa Bu, tamunya,? Pak Presiden ya? Pak Mentri ya? Tanyanya. Banyaknya anak-anak yang bertanya, sampai tak ada waktu lagi buat menjawab. Akhirnya kami sampaikan bukan Pak Presiden ataupun Pak Menteri tetapi tamu dari kantor staf kepresidenan. Sebenarnya sering juga menerima tamu, namun tamu yang ini agak berbeda bahkan sepanjang sekolah ini ada, baru kali ini kedatangan tamu dari istana.

Anak-anak sangat gembira ria, warga sekolah semua sangat antusias menyambut dan sampailah tamu-tamu kami di SMPN 15 Yogyakarta semua terdiam, dan ketika juru bicara memulai menyampaikan sambutan nya” Bu kepala sekolah, Bapak Kepala DinasPendidikan, Ibu Bapak dari DPMPPA, ibu bapak guru, karyawan, dan anak-anaku, kami dari kantor staf kepresidenan “,belum selesai begitu, anak-anakku ,kamu, OSIS ,tangannya diangkat ke atas……Horee tamu dari istana datang.

Selanjutnya beliau menyampaikan penghargaannya, sebenarnya kami biasa-biasa saja . Kami lakukan apa yang harus kami lakukan, kami programkan apa yang mesti kami programkan, tidak ada yang istimewa bagi kami. Ternyata apa yang dilakukan anak-anak kami, guru, karyawan sahabat kami sangat luar biasa mendapatkan apresiasi sehingga kabar bahwa sekolah kami adalah sekolah ramah anak sampai juga ke istana. Itulah kebanggaan kami.

Selanjutnya sambutan disampaikan sangat berapi-api dan salah satunya adalah mohon kiranya program yang telah kami lakukan itu dikembangkan terus agar nanti bisa terimbas kepada sekolah-sekolah yang lain.

        Berakhirlah pertemuan di aula, dilanjutkan dengan mengunjungi lingkungan kami ,hati kami sudah mulai berdebar karena menurut kami tidak ada yang istimewa. Kami juga seperti sekolah-sekolah yang lain, seiring dengan kegiatan kunjungan ke lingkungan sekolah sampailah di depan rencana monumen yang akan kami bangun, dan tulisannya juga masih berupa banner yang berbunyi Panca Prasetia Pelajar SMP Negeri 15 Yogyakarta:

              1. Setia kepada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

            2. Hormat dan patuh kepada orang tua dan guru

            3. Cerdas pikir, rasa, raga, dan nurani

            4. Greget ,sengguh , ora mingkuh lan nyawiji.

            5. Hamemayu hayuning Nagari.

 

Ternyata tamu itu menyampaikan bahwa untuk sekolah negeri baru menemui di sekolah kami yang memiliki Prasetia atau janji dari seorang murid yang selama 3 tahun mengucapkan janji tersebut. Sebagaimana kita tahu bahwa janji yang dilisankan itu harapannya nanti menjadi muatan nurani bagi mereka atau etos, setelah menjadi muatan nurani harapannya menjadi patos yaitu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kami menjelaskan kepada tamu hal itu, beliaunya “cckk…cckk.. cckk’, padahal kami sebenarnya biasa-biasa saja namun demikian kami bersyukur bahwa karya kami tersebut mendapat apresiasi dari tamu kami, dan tamu itu bukan sembarang tamu tapi tamu dari istana. Harapan Kami nanti istana mendengar bahwa ada sekolah negeri di Yogyakarta yang memiliki Prasetia Siswa.

Akhir perjalanan mengelilingi lingkungan sampailah pada titik akhir dimana kami sudah akan menutup kegiatan tersebut tak lupa di era milenial digital ini kami pun semua bersama-sama untuk mengambil foto. Alangkah gembiranya kami, guru-guru dan karyawan kami bahkan siswa kami dapat “menjamu” tamu kami sehingga mereka merasa puas datang ke sekolah kami. Itulah momen yang tak terlupakan. 


Ibu Sylvana Maria Apituley (tengah berkalung)


Penyambutan tamu oleh Peleton Inti SMP Negeri 15 Yogyakarta